™Quinsha_Dewistavia™

Foto saya
Kayuagung, Sumatera Selatan, Indonesia
Besak Tinggi Belagak

Sabtu, 14 Mei 2011

Penyakit Bara

Bara yang satu ini bukanlah nama orang terkenal seperti Bara Hasibuan sang diplomat ataupun Bara Patirajawane sang jago masak. Bara di sini terinspirasi dari tulisan Bos NH18 tentang Trainer Bisulan. Menjelang pilpres seperti saat ini, godaan menulis tema politik sangat kuat. Saya berusaha agar tidak mengarah ke sana karena sudah banyak blog serius yang membahasnya.
Apa persamaan bara dengan bisul? Menurut pemahaman orang Medan (Melayu) bara adalah bisul yang besar dan bandel. Seberapa besar? Bisa selebar bola kasti, hanya saja tidak sebegitu tebal.  Bagaimana kisahnya?

Peristiwa ini bermula dari rasa sakit yang muncul di paha kanan saya (saat itu saya masih  duduk di kelas 2 MTs, setingkat SMP). Masih untung posisinya berada di luar CD sehingga tidak mengganggu organ penting. Mula-mula yang muncul hanya benjolan yang relatif menebal, meski lebarnya sudah mulai terdeteksi. Orangtua menyarankan agar saya membaluri bawang putih cacah di atasnya agar tidak tumbuh alias  bantet. Setelah beberapa kali saya taburi, ternyata bukannya hilang, malah bertambah besar benjolan tersebut.
Upaya untuk mengempeskan benjolan ini belum surut juga. Akhirnya saya dibawa ke tukang urut (seorang tabib beretnis Batak Karo). Di sini sang tabib berupaya mengurut saya dengan ramuan tertentu di pangkal kaki. Lalu bagaimana hasilnya? Tetap tidak berpengaruh. Akhirnya saya pasrah saja benjolan bertambah besar. Hampir seminggu lebih saya menahan sakit yang tiada tara. Jalan susah, apalagi berlari. Untuk mempercepat letusan, diolesilah bisul tadi dengan salep berwarna hitam yang baunya naudzubillah.
Eh, khasiat salep hitam  memang tokcer. Pada saatnya meletus juga bara tersebut. Sambil menahan sakit saya berupaya  secara mandiri mengeluarkan nanah. Rupanya, tidak semua nanah berhasil saya keluarkan karena tak kuat menahan sakit. Oleh perawat klinik kebun, saya direkomendasikan untuk dirawat di rumah sakit pusat PTPN II Tanjung Morawa. Dalam hati saya bergumam, “Kok bisul saja harus dirawat? Lebay amat seh…”
Dengan berat hati saya mengiyakan tatkala harus dibawa ke rumah sakit. Setibanya di sana saya dibawa ke ruang OK atawa ruang operasi (btw, singkatan OK apaan ya?). Gunting dan kain khas menjadi senjatan andalan untuk mengeluarkan darah kotor dan nanah yang masih tertinggal. Selama kurang lebih 15 menit sang algojo mengobrak-barik bisul tersebut. Yang menyeramkan, saya sama sekali tidak dibius. Akibatnya, saya menggelinjang kesakitan mengerang-erang.  Tanpa mempedulikan  erangan saya, sang algojo terus menuntaskan  tugasnya. Guntingnya terus menari-nari melucuti daging di dalam bisul.
Barangkali, kalau kejadian ini berlangsung saat ini, saya langsung menuliskannya di blog dan mengirimkannya ke milis seperti yang dilakukan Mbak Prita. Bisa-bisa saya langsung terkenal dan diliput semua televisi swasta dan ditelepon oleh calon presiden. Ih lebay pisan euy…
Setelah tidak ada lagi darah kotor yang tersisa, kain kasa dimasukkan ke dalam lubang inti bisul, tempat sang biang bersembunyi. Prosesi terakhir ini juga tak kalah nyerinya. Setelah itu, usailah  pembantaian hari itu. Tidak seperti yang saya harapkan, saya belum  boleh pulang dulu. Saya diopname selama hampir seminggu.
Saya sih asyik-asyik aja. Selama dirawat ini berat badan saya bertambah. Jadwal makan di rumah sakit sangat teratur. Di samping tiga kali sehari, ada makanan tambahan setiap pukul 10 pagi dan 16 sore. Berhubung penyakitnya hanya bisul, selera makan saya tidak hilang.
Jadilah saya enjoy menikmati hari-hari di rumah sakit. Hanya saja, ketika teman sekelas membesuk, alangkah tidak elitnya saat harus menyebutkan penyakit yang saya derita. Untuk membuatnya lebih menakutkan, maka disebutlah BARA, bukan bisul. Entahlah, apakah ada bedanya bisul dan bara menurut istilah medis. Kurang jelas pula apakah bara ini berasal dari bara api, bara darah atau bara nanah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar